By : Thufail al ghifari
Ketika Kami di USIA DINI
Kalian pagari dengan tayangan kebebasan
Para perempuan yang tak punya kehormatan
Mengumbar aurat dan bangga
Bangga dengan maksiat
Bebas berbuat
laki-laki dan perempuan
Tak ada batasan saling merusak kesucian
Kalian sebut ini kemodernan
Propaganda menyesatkan kalian cekoki kami
Tentang ibu yang tak perlu taat suami
Tentang Ayah yang tak harus jadi wali
Tentang harus serupa perempuan laki-laki
Tentang semua agama yang sama tinggi
Padahal kami generasi penerus risalah Para Nabi
Kalian telah rusak karakter-karakter keislaman kami
Chorus :
Wahai Ayah Ibu
Wahai Guru-guru
Wahai Bapak-bapak Pemimpin kami
Selamatkan hidup kami
Seluruh remaja negeri ini
Dari Gelombang Kehancuran
Dari Nista Dunia dan Siksa Neraka
Ketika Kami MENJELANG BALIGH
Kalian jauhkan kami dari al-Qur'an
Kitab Suci Mulia, sumber utama
pendidikan Wahyu Surga
Hingga kami tak kenal Keagungan Rabb Agung
Allah pencipta manusia, alam semesta
dan kehidupan dunia akhirat
Kalian tanamkan bahwa asal usul manusia
berawal dari protein
yang menjelma menjadi hewan melata
Kalian ajarkan materi tak dapat diciptakan
dan tak dapat dimusnahkan
Kalian katakan kehidupan adalah reaksi
sempurna unsur-unsur alam
Dimana tak ada Allah yang boleh berperan mengatur manusia yang Ia ciptakan
Lalu kalian kenalkan ide kebebasan
mengatur hidup kami Dengan UU dan hukum
yang telah kalian buat sendiri
lalu campakkan kami dari Syariat Agung Pencipta kami
Di atas jargon Kebebasan demokrasi basi
Chorus :
Wahai Ayah Ibu
Wahai Guru-guru
Wahai Bapak-bapak Pemimpin kami
Selamatkan hidup kami
Seluruh remaja negeri ini
Dari Gelombang Kehancuran,
Dari Nista Dunia dan Siksa Neraka
Ketika Kami AQIL BALIGH
Kalian katakan kami masih anak-anak
Begitulah rekayasa Undang-undang Perlindungan Anak
Kalian bilang kami masih di bawah umur,
hanya karena usia kami baru dua belas tahun
padahal kalianlah yang belum dewasa
walau usia kalian sudah lebih dari delapan belas tahun
Kamipun dibiarkan hidup bebas tak terikat
Tak ada beban walau tinggalkan sholat
Tak masalah walau umbar aurat
Tak peduli hidup kami hanya untuk kesenangan sesaat
Kalian cekoki kami dengan paham liberal
hedonisme bebal
Kalian sediakan kontrasepsi
Agar seks bebas tak kami takuti
sambil larang kami menikah dini
Walau di usia yang Allah ijini
Kalian sarankan kami untuk berzina dengan kondomisasi
Chorus :
Wahai Ayah-Ibu
Wahai Guru-guru
Wahai Bapak-bapak Pemimpin kami
Selamatkan hidup kami Seluruh remaja negri ini
Dari Gelombang Kehancuran,
Dari Nista Dunia dan Siksa Neraka
Ketika noda mencederai kehormatan dan terjadi Kehamilan
Kalian menyebutnya Kehamilan tak Diinginkan
Kalian ajarkan membunuh janin-janin bukan suatu kesalahan
Dengan UU yang membolehkan Aborsi yang kalian legalkan
Dan UU Kesehatan Reproduksi Remaja produksi setan
Dan KINI
Jadilah kami para pezina
Jadilah kami pembunuh janin-janin yang meronta
Kami pun lari ke lingkar Narkoba
Terjangkit penyakit-penyakit berbahaya
Merusak akal, fisik, masa depan dan jiwa
Saat itulah kami menyaksikan dengan merana
Jaringan Iblis Liberal tertawa
Wahai anak cucu Adam, selamat menjadi bahan bakar Neraka !
Chorus :
Selamatkan Selamatkan kami
Selamatkan Selamatkan kami
Selamatkan Selamatkan kami
Laman
Minggu, 27 Juni 2010
Rabu, 23 Juni 2010
CATATAN TERAKHIR
By : Thufail Al Ghifari
terjagalah dari segala maksiat
dari segala zina dan nafsu dunia yang sesat
disatukan dalam karunia yang suci bersama jiwa jiwa
yang selalu haus akan ibadah dan penuh harga diri
ini bukan cerita cinderela
bukan juga patah arang cinta buta siti nurbaya
tak dapat diukur tapi bersama Allah
semua pasti akan teratur
dinyatakan dalam ketulusan
dari mutiara ketakwaan yang sangat mendalam
bersemi dari pupuk akhlak yang hebat
berbuah dalam kesabaran dan ketekunan yang lebat
tidak, ini takkan dimengerti
oleh hati yang penuh dengan dusta
yang buta oleh warna warni dunia yang fana
ini hanya untuk mereka yang selalu ingin luruskan
keteladanan bagi generasi berikutnya
keteladanan abadi dalam harum kesturi dan buah ibadah
dan menjadi manis seperti kurma
diawal rembulan yang indah
untuk selalu berjalan dalam kesetiaan dan harapan
dan hanya mau mencium
atas dasar kemurnian kita berkata cinta
karena bukan apa siapa dan bagaimana
tapi luruskanlah dalam wangi surga
karena apa sebenarnya kita berani berkata cinta
hingga rambut kita memutih
hingga ajal kan datang menjemput diri ini
hingga rambut kita memutih
hingga ajal kan datang menjemput diri ini
inilah cinta sejati
cinta yang tak perlu kau tunggu
tapi dia tumbuh bersama doa malam yang teduh
tak tersentuh oleh mata dunia yang palsu
petunjuk yang selalu datang
dari ruang para malaikat
yang sanggup melihat tak kenal pekat
tak lekang oleh zaman yang kan terus melaju
takkan habis oleh waktu
karena kecantikannya tersimpan dihati
dalam pesona yang selalu menjaga jiwa
yang menjadikan dunia menjadi surga
sebelum surga sebenarnya
yang membuat hidup lebih hidup
dari kehidupan sebenarnya
seperti sungai yang mengalir
bening airnyapun selalu artikan keseimbangan syair
yang satukan dua perbedaan dalam satu ikatan
untuk melihat kekurangan sebagai kesempatan
dan kelebihan sebagai kekuatan
lalu saling mengisi seperti matahari dan bulan
dalam kesetiaan ruang kesolehan dan kasih sayang
bagi sejarah penutup halaman terakhir perjalanan
para kesatria sastra jihad dan dakwah
tercatat dalam untaian rahmat berakhir
dalam catatan terakhir yang mulia
digariskan hanya oleh ketetapan Allah Subhanahu wata'ala
hingga rambut kita memutih
hingga ajal kan datang menjemput diri ini
hingga rambut kita memutih
hingga ajal kan datang menjemput diri ini
terjagalah dari segala maksiat
dari segala zina dan nafsu dunia yang sesat
disatukan dalam karunia yang suci bersama jiwa jiwa
yang selalu haus akan ibadah dan penuh harga diri
ini bukan cerita cinderela
bukan juga patah arang cinta buta siti nurbaya
tak dapat diukur tapi bersama Allah
semua pasti akan teratur
dinyatakan dalam ketulusan
dari mutiara ketakwaan yang sangat mendalam
bersemi dari pupuk akhlak yang hebat
berbuah dalam kesabaran dan ketekunan yang lebat
tidak, ini takkan dimengerti
oleh hati yang penuh dengan dusta
yang buta oleh warna warni dunia yang fana
ini hanya untuk mereka yang selalu ingin luruskan
keteladanan bagi generasi berikutnya
keteladanan abadi dalam harum kesturi dan buah ibadah
dan menjadi manis seperti kurma
diawal rembulan yang indah
untuk selalu berjalan dalam kesetiaan dan harapan
dan hanya mau mencium
atas dasar kemurnian kita berkata cinta
karena bukan apa siapa dan bagaimana
tapi luruskanlah dalam wangi surga
karena apa sebenarnya kita berani berkata cinta
hingga rambut kita memutih
hingga ajal kan datang menjemput diri ini
hingga rambut kita memutih
hingga ajal kan datang menjemput diri ini
inilah cinta sejati
cinta yang tak perlu kau tunggu
tapi dia tumbuh bersama doa malam yang teduh
tak tersentuh oleh mata dunia yang palsu
petunjuk yang selalu datang
dari ruang para malaikat
yang sanggup melihat tak kenal pekat
tak lekang oleh zaman yang kan terus melaju
takkan habis oleh waktu
karena kecantikannya tersimpan dihati
dalam pesona yang selalu menjaga jiwa
yang menjadikan dunia menjadi surga
sebelum surga sebenarnya
yang membuat hidup lebih hidup
dari kehidupan sebenarnya
seperti sungai yang mengalir
bening airnyapun selalu artikan keseimbangan syair
yang satukan dua perbedaan dalam satu ikatan
untuk melihat kekurangan sebagai kesempatan
dan kelebihan sebagai kekuatan
lalu saling mengisi seperti matahari dan bulan
dalam kesetiaan ruang kesolehan dan kasih sayang
bagi sejarah penutup halaman terakhir perjalanan
para kesatria sastra jihad dan dakwah
tercatat dalam untaian rahmat berakhir
dalam catatan terakhir yang mulia
digariskan hanya oleh ketetapan Allah Subhanahu wata'ala
hingga rambut kita memutih
hingga ajal kan datang menjemput diri ini
hingga rambut kita memutih
hingga ajal kan datang menjemput diri ini
DI SEKITAR KITA
By : Thufail Al Ghifari
Dapatkah kau renungkan
Rapuh teratai yang tak sanggup lagi mengapung
Mendistorsi setiap kebajikan
Bunda yang bertanya diujung hati dan harapan
Aku dengar semua penjelasanmu
Aku dengar semua penjelasanmu
Airmata ini
Tergores sejenak detak jantung disetiap mimpi
Dari kau yang tak lagi dapat menahan diri
Butakan rasa tanpa kendali tuk sadar
Kenyataan ini hanyalah sebuah permainan
Kenyataan ini hanyalah misteri keimanan
[FABIAYYI ALAAIRABBIKUMAA TUKADZIBAN
SUBHAANALLAH]
Lihatkan kau bocah yang menutup harapanya
Anak-anak yang kehilangan orang tuanya
Setaip orang yang tercuri hak hidupnya
Lapar dahaga yang hiasi pangkat senjata dunia
Seperti apa dunia yang kita harapkan
Ketika mata ini selalu wariskan luka
Ketika hati ini lebih memilih diam
Walau di depan kau lihat saudaramu terluka
Pandanglah disekitar kita
Berapa banyak nikmat Allah yang telah kau dustakan
Dapatkah kau renungkan
Rapuh teratai yang tak sanggup lagi mengapung
Mendistorsi setiap kebajikan
Bunda yang bertanya diujung hati dan harapan
Aku dengar semua penjelasanmu
Aku dengar semua penjelasanmu
Airmata ini
Tergores sejenak detak jantung disetiap mimpi
Dari kau yang tak lagi dapat menahan diri
Butakan rasa tanpa kendali tuk sadar
Kenyataan ini hanyalah sebuah permainan
Kenyataan ini hanyalah misteri keimanan
[FABIAYYI ALAAIRABBIKUMAA TUKADZIBAN
SUBHAANALLAH]
Lihatkan kau bocah yang menutup harapanya
Anak-anak yang kehilangan orang tuanya
Setaip orang yang tercuri hak hidupnya
Lapar dahaga yang hiasi pangkat senjata dunia
Seperti apa dunia yang kita harapkan
Ketika mata ini selalu wariskan luka
Ketika hati ini lebih memilih diam
Walau di depan kau lihat saudaramu terluka
Pandanglah disekitar kita
Berapa banyak nikmat Allah yang telah kau dustakan
SELAMATKAN KAMI
Song by: Thufail al Ghifari
Lyric by: Ustadzah Ir. Lathifah Musa
Ketika Kami di USIA DINI
Kalian pagari dengan tayangan kebebasan
Para perempuan yang tak punya kehormatan
Mengumbar aurat dan bangga
Bangga dengan maksiat
Bebas berbuat
laki-laki dan perempuan
Tak ada batasan saling merusak kesucian
Kalian sebut ini kemodernan
Propaganda menyesatkan kalian cekoki kami
Tentang ibu yang tak perlu taat suami
Tentang Ayah yang tak harus jadi wali
Tentang harus serupa perempuan laki-laki
Tentang semua agama yang sama tinggi
Padahal kami generasi penerus risalah Para Nabi
Kalian telah rusak karakter-karakter keislaman kami
Chorus :
Wahai Ayah Ibu
Wahai Guru-guru
Wahai Bapak-bapak Pemimpin kami
Selamatkan hidup kami
Seluruh remaja negeri ini
Dari Gelombang Kehancuran
Dari Nista Dunia dan Siksa Neraka
Ketika Kami MENJELANG BALIGH
Kalian jauhkan kami dari al-Qur'an
Kitab Suci Mulia, sumber utama
pendidikan Wahyu Surga
Hingga kami tak kenal Keagungan Rabb Agung
Allah pencipta manusia, alam semesta
dan kehidupan dunia akhirat
Kalian tanamkan bahwa asal usul manusia
berawal dari protein
yang menjelma menjadi hewan melata
Kalian ajarkan materi tak dapat diciptakan
dan tak dapat dimusnahkan
Kalian katakan kehidupan adalah reaksi
sempurna unsur-unsur alam
Dimana tak ada Allah yang boleh berperan mengatur manusia yang Ia ciptakan
Lalu kalian kenalkan ide kebebasan
mengatur hidup kami Dengan UU dan hukum
yang telah kalian buat sendiri
lalu campakkan kami dari Syariat Agung Pencipta kami
Di atas jargon Kebebasan demokrasi basi
Chorus :
Wahai Ayah Ibu
Wahai Guru-guru
Wahai Bapak-bapak Pemimpin kami
Selamatkan hidup kami
Seluruh remaja negeri ini
Dari Gelombang Kehancuran,
Dari Nista Dunia dan Siksa Neraka
Ketika Kami AQIL BALIGH
Kalian katakan kami masih anak-anak
Begitulah rekayasa Undang-undang Perlindungan Anak
Kalian bilang kami masih di bawah umur,
hanya karena usia kami baru dua belas tahun
padahal kalianlah yang belum dewasa
walau usia kalian sudah lebih dari delapan belas tahun
Kamipun dibiarkan hidup bebas tak terikat
Tak ada beban walau tinggalkan sholat
Tak masalah walau umbar aurat
Tak peduli hidup kami hanya untuk kesenangan sesaat
Kalian cekoki kami dengan paham liberal
hedonisme bebal
Kalian sediakan kontrasepsi
Agar seks bebas tak kami takuti
sambil larang kami menikah dini
Walau di usia yang Allah ijini
Kalian sarankan kami untuk berzina dengan kondomisasi
Chorus :
Wahai Ayah-Ibu
Wahai Guru-guru
Wahai Bapak-bapak Pemimpin kami
Selamatkan hidup kami Seluruh remaja negri ini
Dari Gelombang Kehancuran,
Dari Nista Dunia dan Siksa Neraka
Ketika noda mencederai kehormatan dan terjadi Kehamilan
Kalian menyebutnya Kehamilan tak Diinginkan
Kalian ajarkan membunuh janin-janin bukan suatu kesalahan
Dengan UU yang membolehkan Aborsi yang kalian legalkan
Dan UU Kesehatan Reproduksi Remaja produksi setan
Dan KINI
Jadilah kami para pezina
Jadilah kami pembunuh janin-janin yang meronta
Kami pun lari ke lingkar Narkoba
Terjangkit penyakit-penyakit berbahaya
Merusak akal, fisik, masa depan dan jiwa
Saat itulah kami menyaksikan dengan merana
Jaringan Iblis Liberal tertawa
Wahai anak cucu Adam, selamat menjadi bahan bakar Neraka !
Chorus :
Selamatkan Selamatkan kami
Selamatkan Selamatkan kami
Selamatkan Selamatkan kami
Lyric by: Ustadzah Ir. Lathifah Musa
Ketika Kami di USIA DINI
Kalian pagari dengan tayangan kebebasan
Para perempuan yang tak punya kehormatan
Mengumbar aurat dan bangga
Bangga dengan maksiat
Bebas berbuat
laki-laki dan perempuan
Tak ada batasan saling merusak kesucian
Kalian sebut ini kemodernan
Propaganda menyesatkan kalian cekoki kami
Tentang ibu yang tak perlu taat suami
Tentang Ayah yang tak harus jadi wali
Tentang harus serupa perempuan laki-laki
Tentang semua agama yang sama tinggi
Padahal kami generasi penerus risalah Para Nabi
Kalian telah rusak karakter-karakter keislaman kami
Chorus :
Wahai Ayah Ibu
Wahai Guru-guru
Wahai Bapak-bapak Pemimpin kami
Selamatkan hidup kami
Seluruh remaja negeri ini
Dari Gelombang Kehancuran
Dari Nista Dunia dan Siksa Neraka
Ketika Kami MENJELANG BALIGH
Kalian jauhkan kami dari al-Qur'an
Kitab Suci Mulia, sumber utama
pendidikan Wahyu Surga
Hingga kami tak kenal Keagungan Rabb Agung
Allah pencipta manusia, alam semesta
dan kehidupan dunia akhirat
Kalian tanamkan bahwa asal usul manusia
berawal dari protein
yang menjelma menjadi hewan melata
Kalian ajarkan materi tak dapat diciptakan
dan tak dapat dimusnahkan
Kalian katakan kehidupan adalah reaksi
sempurna unsur-unsur alam
Dimana tak ada Allah yang boleh berperan mengatur manusia yang Ia ciptakan
Lalu kalian kenalkan ide kebebasan
mengatur hidup kami Dengan UU dan hukum
yang telah kalian buat sendiri
lalu campakkan kami dari Syariat Agung Pencipta kami
Di atas jargon Kebebasan demokrasi basi
Chorus :
Wahai Ayah Ibu
Wahai Guru-guru
Wahai Bapak-bapak Pemimpin kami
Selamatkan hidup kami
Seluruh remaja negeri ini
Dari Gelombang Kehancuran,
Dari Nista Dunia dan Siksa Neraka
Ketika Kami AQIL BALIGH
Kalian katakan kami masih anak-anak
Begitulah rekayasa Undang-undang Perlindungan Anak
Kalian bilang kami masih di bawah umur,
hanya karena usia kami baru dua belas tahun
padahal kalianlah yang belum dewasa
walau usia kalian sudah lebih dari delapan belas tahun
Kamipun dibiarkan hidup bebas tak terikat
Tak ada beban walau tinggalkan sholat
Tak masalah walau umbar aurat
Tak peduli hidup kami hanya untuk kesenangan sesaat
Kalian cekoki kami dengan paham liberal
hedonisme bebal
Kalian sediakan kontrasepsi
Agar seks bebas tak kami takuti
sambil larang kami menikah dini
Walau di usia yang Allah ijini
Kalian sarankan kami untuk berzina dengan kondomisasi
Chorus :
Wahai Ayah-Ibu
Wahai Guru-guru
Wahai Bapak-bapak Pemimpin kami
Selamatkan hidup kami Seluruh remaja negri ini
Dari Gelombang Kehancuran,
Dari Nista Dunia dan Siksa Neraka
Ketika noda mencederai kehormatan dan terjadi Kehamilan
Kalian menyebutnya Kehamilan tak Diinginkan
Kalian ajarkan membunuh janin-janin bukan suatu kesalahan
Dengan UU yang membolehkan Aborsi yang kalian legalkan
Dan UU Kesehatan Reproduksi Remaja produksi setan
Dan KINI
Jadilah kami para pezina
Jadilah kami pembunuh janin-janin yang meronta
Kami pun lari ke lingkar Narkoba
Terjangkit penyakit-penyakit berbahaya
Merusak akal, fisik, masa depan dan jiwa
Saat itulah kami menyaksikan dengan merana
Jaringan Iblis Liberal tertawa
Wahai anak cucu Adam, selamat menjadi bahan bakar Neraka !
Chorus :
Selamatkan Selamatkan kami
Selamatkan Selamatkan kami
Selamatkan Selamatkan kami
SENJA KALA HIDAYAH DAN PENGHANCUR BERHALA
By : Thufail Al Ghifari
Mendekatlah engkau kedalam pelukanku
Agar dapat kupecahkan seribu ketakutanmu
Takkan kubiarkan satu hal saja melukai hatimu
Walau ku sadari lelaki ini memang tidak sempurna
Tapi bersama Allah
Oh...
Ku yakin semua akan baik-baik saja
Ku yakin semua akan baik-baik saja
Sempurkan setengah agamaku
Biar ku cintai semua kekuranganmu
Ajarkan aku menerima mensyukuri dan dewasakan hidup ini
Bersamamu terujir kisah makna cinta sejati
Karena bersama Allah
Oh...
Ku yakin semua akan baik-baik saja
Ku yakin semua akan baik-baik saja
Ku yakin semua akan baik-baik saja
Ku yakin semua akan baik-baik saja
Mendekatlah engkau kedalam pelukanku
Agar dapat kupecahkan seribu ketakutanmu
Takkan kubiarkan satu hal saja melukai hatimu
Walau ku sadari lelaki ini memang tidak sempurna
Tapi bersama Allah
Oh...
Ku yakin semua akan baik-baik saja
Ku yakin semua akan baik-baik saja
Sempurkan setengah agamaku
Biar ku cintai semua kekuranganmu
Ajarkan aku menerima mensyukuri dan dewasakan hidup ini
Bersamamu terujir kisah makna cinta sejati
Karena bersama Allah
Oh...
Ku yakin semua akan baik-baik saja
Ku yakin semua akan baik-baik saja
Ku yakin semua akan baik-baik saja
Ku yakin semua akan baik-baik saja
Selasa, 22 Juni 2010
MUHASABAH
By : Thufail Al Ghifari
Nafasku yang menghela dalam ketakutan
Jiwaku yang bergetir dalam kesunyian
Tentang kerinduanku padamu ya Allah
Di setiap langkahku
Di dalam jiwaku
Engkaulah yang maha memberikan rahmat
Engkaulah yang penuh dengan jutaan maaf
Maafkanlah disetiap amalku
Yang tak pernah sempurna
Yang penuh dengan noda
Ampunilah kami yang begitu sering dustakan nikmat-Mu
Tuntunlah kami selalu dalam jalan-Mu
Oh...
Yeah... Yeah... Yeah...
Ke surga-Mu ya Allah
Maafkanlah diri ini di setiap amal yang tak sempurna ini
Ke surga-Mu
Bawalah kami kembali berkumpul bersama dengan kekasih-Mu
Ampunilah kami yang begitu sering dustakan nikmat-Mu
Tuntunlah kami selalu dalam jalan-Mu
Oh...
Yeah... Yeah... Yeah...
Ke surga-Mu ya Allah
Maafkanlah diri ini di setiap amal yang tak sempurna ini
Ke surga-Mu
Bawalah kami kembali berkumpul bersama dengan kekasih-Mu
Nafasku yang menghela dalam ketakutan
Jiwaku yang bergetir dalam kesunyian
Tentang kerinduanku padamu ya Allah
Di setiap langkahku
Di dalam jiwaku
Engkaulah yang maha memberikan rahmat
Engkaulah yang penuh dengan jutaan maaf
Maafkanlah disetiap amalku
Yang tak pernah sempurna
Yang penuh dengan noda
Ampunilah kami yang begitu sering dustakan nikmat-Mu
Tuntunlah kami selalu dalam jalan-Mu
Oh...
Yeah... Yeah... Yeah...
Ke surga-Mu ya Allah
Maafkanlah diri ini di setiap amal yang tak sempurna ini
Ke surga-Mu
Bawalah kami kembali berkumpul bersama dengan kekasih-Mu
Ampunilah kami yang begitu sering dustakan nikmat-Mu
Tuntunlah kami selalu dalam jalan-Mu
Oh...
Yeah... Yeah... Yeah...
Ke surga-Mu ya Allah
Maafkanlah diri ini di setiap amal yang tak sempurna ini
Ke surga-Mu
Bawalah kami kembali berkumpul bersama dengan kekasih-Mu
PETUNJUK JALAN
By : Thufail Al Ghifari
Kita yang pernah terjatuh, terprosok jauh,
bahkan hancur dan tak lagi utuh
Letih yang merangsang rasio dan nalar
Pecahkan sadar diantara jewantah fitnah
Sedikit demi sedikit kalbu terselimuti pahit
Sekejap membutakan hati dan kian menyempit
Lalu mati sesudah sakit
Bertanya tentang batas tipis
tentang kenyataan yang mengiris
Saat saat dimana Kaab Bin Malik
sadari batas definisi nurani dan munafik
Lalu kembali belajar berdiri dan coba menampik
Jalan ini selapang dadamu
Jawaban itu bersemi dalam ikhlas jiwamu
Bukan kualitas lidah
Tapi ketulusan adalah inti permata nurani
Apakah kita memang mampu mengerti
Tentang 4 mata jiwa yang sesungguhnya kita miliki
Dua untuk dunia dua untuk akhirat
Untuk berpikir kembali dengan hati dan selalu belajar keluar dari pergulatan hakiki
Antara nurani dan bisikan manusiawi sebagai juara sejati
Berjalanlah
Percayalah kau tidak sendiri
Berjalanlah
Percayalah kau tidak sendiri
Karena diperlukan suatu hentakan yakin
Yang akan melahirkan keberanian, keteguhan dan kesabaran
Bertolak dari jaminan yang tak pernah lapuk
Bagi mereka yang tak pernah lupa akan hakikat hidup yang hanya sekali
Yang tak pernah ragu memilih keabadian di sisi Ilahi Rabbi
Dan terus menggaungkan kebenaran yang di yakininya
Tak ada nyawa cadangan tak ada umur reserve
Karena pertarungan ini hanyalah tentang hidup dan mati
Patahkan Semua kecewamu
Semua kekalutan dan gelisah
Patahkan semua kesedihan
Semua kepedihan jiwa
Turunkanlah jenazah ke dalam liang lahat
Melepas kerabat diakhir nafas ketika kau terlambat memahat
Berbiduk di gelombang yang ganas
Bila hati belum juga nikmati rasa memanas
Takbirkanlah empat kali akan kematian hati dan nurani kita bersama
Untuk para pewaris Muhammad
Penerus janji janji Alloh yang pasti
Inilah cahaya terang dan jalan lurus yang selalu siap menghantar
Pada keselamatan dunia dan kebahagiaan akhirat
Berjalanlah
Percayalah kau tidak sendiri
Berjalanlah
Percayalah kau tidak sendiri
Perhatikanlah
beribu ribu pengecut yang keluar rumah mereka dengan perasaan takut mati
yang membuat langkah menjadi berat
dalam gambar hari esok yang kian berwarna hitam pekat
dalam keruh nurani dan angan angan yang panjang
ketika kematian tidak membuat jalanmu gemetar
amal yang retak dan degradasi kebajikan yang kehilangan letak
terjebak dalam kerugian jiwa
dalam padamnya hati yang mulia
masalah tidak selesai bersama fenomena dan fatamorgana
tapi hakikat jiwa
selalu bersemi dalam rangkaian cinta dua pusaka
ia adalah gerak yang tak kenal henti
dan keteguhan yang tak kenal menyerah
ia adalah pengakuan bagi siapapun yang mentauhidkan Alloh
pikiran besar yang tercairkan disetiap lembar
yang membunuh keresahan hati yang kaku
dan tak pandai kau cairkan
atau biarkan senandung nasib terintikan bagi zaman sesudahmu
dan menjadi pupuk khasanah doa yang kau panen untuk hari esok generasimu
Berjalanlah
Percayalah kau tidak sendiri
Berjalanlah
Percayalah kau tidak sendiri
Inilah kisah kita kawan
Kisah kau dan aku
Kisah kita semua
Bersabarlah
Karena tidak ada masalah diluar kemampuanmu
Karena sabar pada orang lain adalah kasih sayang
Sabar pada diri sendiri adalah harapan
Sabar pada orang yang kita cintai adalah ibadah
Sabar pada Alloh adalah takwa
Bersabarlah…
Kita yang pernah terjatuh, terprosok jauh,
bahkan hancur dan tak lagi utuh
Letih yang merangsang rasio dan nalar
Pecahkan sadar diantara jewantah fitnah
Sedikit demi sedikit kalbu terselimuti pahit
Sekejap membutakan hati dan kian menyempit
Lalu mati sesudah sakit
Bertanya tentang batas tipis
tentang kenyataan yang mengiris
Saat saat dimana Kaab Bin Malik
sadari batas definisi nurani dan munafik
Lalu kembali belajar berdiri dan coba menampik
Jalan ini selapang dadamu
Jawaban itu bersemi dalam ikhlas jiwamu
Bukan kualitas lidah
Tapi ketulusan adalah inti permata nurani
Apakah kita memang mampu mengerti
Tentang 4 mata jiwa yang sesungguhnya kita miliki
Dua untuk dunia dua untuk akhirat
Untuk berpikir kembali dengan hati dan selalu belajar keluar dari pergulatan hakiki
Antara nurani dan bisikan manusiawi sebagai juara sejati
Berjalanlah
Percayalah kau tidak sendiri
Berjalanlah
Percayalah kau tidak sendiri
Karena diperlukan suatu hentakan yakin
Yang akan melahirkan keberanian, keteguhan dan kesabaran
Bertolak dari jaminan yang tak pernah lapuk
Bagi mereka yang tak pernah lupa akan hakikat hidup yang hanya sekali
Yang tak pernah ragu memilih keabadian di sisi Ilahi Rabbi
Dan terus menggaungkan kebenaran yang di yakininya
Tak ada nyawa cadangan tak ada umur reserve
Karena pertarungan ini hanyalah tentang hidup dan mati
Patahkan Semua kecewamu
Semua kekalutan dan gelisah
Patahkan semua kesedihan
Semua kepedihan jiwa
Turunkanlah jenazah ke dalam liang lahat
Melepas kerabat diakhir nafas ketika kau terlambat memahat
Berbiduk di gelombang yang ganas
Bila hati belum juga nikmati rasa memanas
Takbirkanlah empat kali akan kematian hati dan nurani kita bersama
Untuk para pewaris Muhammad
Penerus janji janji Alloh yang pasti
Inilah cahaya terang dan jalan lurus yang selalu siap menghantar
Pada keselamatan dunia dan kebahagiaan akhirat
Berjalanlah
Percayalah kau tidak sendiri
Berjalanlah
Percayalah kau tidak sendiri
Perhatikanlah
beribu ribu pengecut yang keluar rumah mereka dengan perasaan takut mati
yang membuat langkah menjadi berat
dalam gambar hari esok yang kian berwarna hitam pekat
dalam keruh nurani dan angan angan yang panjang
ketika kematian tidak membuat jalanmu gemetar
amal yang retak dan degradasi kebajikan yang kehilangan letak
terjebak dalam kerugian jiwa
dalam padamnya hati yang mulia
masalah tidak selesai bersama fenomena dan fatamorgana
tapi hakikat jiwa
selalu bersemi dalam rangkaian cinta dua pusaka
ia adalah gerak yang tak kenal henti
dan keteguhan yang tak kenal menyerah
ia adalah pengakuan bagi siapapun yang mentauhidkan Alloh
pikiran besar yang tercairkan disetiap lembar
yang membunuh keresahan hati yang kaku
dan tak pandai kau cairkan
atau biarkan senandung nasib terintikan bagi zaman sesudahmu
dan menjadi pupuk khasanah doa yang kau panen untuk hari esok generasimu
Berjalanlah
Percayalah kau tidak sendiri
Berjalanlah
Percayalah kau tidak sendiri
Inilah kisah kita kawan
Kisah kau dan aku
Kisah kita semua
Bersabarlah
Karena tidak ada masalah diluar kemampuanmu
Karena sabar pada orang lain adalah kasih sayang
Sabar pada diri sendiri adalah harapan
Sabar pada orang yang kita cintai adalah ibadah
Sabar pada Alloh adalah takwa
Bersabarlah…
SAATNYA KHILAFAH MEMIMPIN DUNIA
Lirik/ Lagu: Zamroni Ahmad | Musik: Dedy Arif | Vocal: Dedy Arif, Umar Abdullah, Fathimah NJL, Taqiyuddin AL, Thufail Alghifari
Saatnya Khilafah Memimpin Dunia
Saatnya Khilafah Memimpin Dunia
Dosa terbesar… terbesar… terbesar
Yang kita perbuat terbesar…
Yang kita lakukan terakhir…terakhir
Haruslah segera berakhir…
Rintihan umat terus mengalir
Laksana gelombang tak dapat terbendung
Tak mampu terhenti…terhenti… terhenti
Melaju punahkan bahagia…gembira
Dan sungguh menyayat hati
Jeritan tangisan pilu
Terus merasuk ke dalam sukmaku
Rindu terus nyala membara
Menantikan satu yang telah lama dinanti
Reff:
Saatnya Khilafah Memimpin Dunia
Saatnya Khilafah Memimpin Dunia
Saatnya Khilafah Memimpin Dunia
Saatnya Khilafah Memimpin Dunia
Ya Allah, jadikanlah kami kaum muslimin Indonesia, kaum muslimin di tanah Syam, kaum muslimin di Iraq, kaum muslimin di Iran, kaum muslimin di Turki, kaum muslimin Sudan, kaum muslimin Mesir, kaum muslimin Pakistan dan kaum muslimin di seluruh dunia menjadi satu kekuatan.
Ya Allah jadikanlah kami satu kekuatan dasyhat, yang akan menegakan Khilafah Rasyidah di atas jalan kenabian yang akan menghancurkan Israel sebagai janji Nabi-Mu.
Sehancur-hancurnya..!!!!
Hingga pepohonan dan batu-batupun berkata :
"Ini Israel!!!
Ada dibaliknya!!!
Hancurkanlah dia!!!!"
Dan sungguh menyayat hati
Jeritan tangisan pilu
Terus merasuk ke dalam sukmaku
Rindu terus nyala membara
Menantikan satu yang telah lama dinanti
Reff:
Saatnya Khilafah Memimpin Dunia
Saatnya Khilafah Memimpin Dunia
Saatnya Khilafah Memimpin Dunia
Saatnya Khilafah Memimpin Dunia
Saatnya Khilafah Memimpin Dunia
Saatnya Khilafah Memimpin Dunia
Dosa terbesar… terbesar… terbesar
Yang kita perbuat terbesar…
Yang kita lakukan terakhir…terakhir
Haruslah segera berakhir…
Rintihan umat terus mengalir
Laksana gelombang tak dapat terbendung
Tak mampu terhenti…terhenti… terhenti
Melaju punahkan bahagia…gembira
Dan sungguh menyayat hati
Jeritan tangisan pilu
Terus merasuk ke dalam sukmaku
Rindu terus nyala membara
Menantikan satu yang telah lama dinanti
Reff:
Saatnya Khilafah Memimpin Dunia
Saatnya Khilafah Memimpin Dunia
Saatnya Khilafah Memimpin Dunia
Saatnya Khilafah Memimpin Dunia
Ya Allah, jadikanlah kami kaum muslimin Indonesia, kaum muslimin di tanah Syam, kaum muslimin di Iraq, kaum muslimin di Iran, kaum muslimin di Turki, kaum muslimin Sudan, kaum muslimin Mesir, kaum muslimin Pakistan dan kaum muslimin di seluruh dunia menjadi satu kekuatan.
Ya Allah jadikanlah kami satu kekuatan dasyhat, yang akan menegakan Khilafah Rasyidah di atas jalan kenabian yang akan menghancurkan Israel sebagai janji Nabi-Mu.
Sehancur-hancurnya..!!!!
Hingga pepohonan dan batu-batupun berkata :
"Ini Israel!!!
Ada dibaliknya!!!
Hancurkanlah dia!!!!"
Dan sungguh menyayat hati
Jeritan tangisan pilu
Terus merasuk ke dalam sukmaku
Rindu terus nyala membara
Menantikan satu yang telah lama dinanti
Reff:
Saatnya Khilafah Memimpin Dunia
Saatnya Khilafah Memimpin Dunia
Saatnya Khilafah Memimpin Dunia
Saatnya Khilafah Memimpin Dunia
Senin, 21 Juni 2010
untukmu
ketika kulihat senyummu sejuta makna
ketika kudengar lidahmu berisi rasa dihatiku
maafkanlah aku bila tak sejalan denganmu
bukan maksud diriku buat tak berarti
sungguh hilaf ku dengar kata hati
tak mungkin terjadi
oh tuhan dimana kutemukan damainya cinta
hanya kau yang tahu segala tercipta
kuserahkan segala kebenaranmu tuk jadikan jalanku
masihkah kau bisa jadikan aku dihidupmu
harusnya kau simpan kesalahanku
ikhlaskan hatimu
ketika kudengar lidahmu berisi rasa dihatiku
maafkanlah aku bila tak sejalan denganmu
bukan maksud diriku buat tak berarti
sungguh hilaf ku dengar kata hati
tak mungkin terjadi
oh tuhan dimana kutemukan damainya cinta
hanya kau yang tahu segala tercipta
kuserahkan segala kebenaranmu tuk jadikan jalanku
masihkah kau bisa jadikan aku dihidupmu
harusnya kau simpan kesalahanku
ikhlaskan hatimu
Tersesat dalam dosa
Ya allah tunjukkan jalanku
Ketika kau dengarkanku
Sekian lama ku arungi gelapku
Tak pernah ku mengingatimu
Dimana kini ku berada
Hampa tiada daya
Aku ingin kembli
Sungguh ingin kembali
Andai saja diriku dapat memutar kembali waktu
Mungkin ku takkan tersesat seperti ini
Air mata ini sanggupkah hapus segala dosa
Sujudku mohon ampuni segala salahku
Robb...hamba yang pernah tersesat dalam kemaksiatan
Terjerumus dalam lembah kenistaan
Tuntun hamba hadir dihadapanmu
Robb...berilah hamba setetes ampunanmu
Berilah hamba seberkas cahayamu
Agar hamba menemukan jalan yang kau ridhoi
Ya Allah ampuni diriku
Kusesali sesatku
Ketika kau dengarkanku
Sekian lama ku arungi gelapku
Tak pernah ku mengingatimu
Dimana kini ku berada
Hampa tiada daya
Aku ingin kembli
Sungguh ingin kembali
Andai saja diriku dapat memutar kembali waktu
Mungkin ku takkan tersesat seperti ini
Air mata ini sanggupkah hapus segala dosa
Sujudku mohon ampuni segala salahku
Robb...hamba yang pernah tersesat dalam kemaksiatan
Terjerumus dalam lembah kenistaan
Tuntun hamba hadir dihadapanmu
Robb...berilah hamba setetes ampunanmu
Berilah hamba seberkas cahayamu
Agar hamba menemukan jalan yang kau ridhoi
Ya Allah ampuni diriku
Kusesali sesatku
Cahaya-Mu
secebis cahaya yang dulu benderang
bagaikan permata ditengah hitam malam
entah mengapa kini telah padam
gelap tak terlihat pun menyerang
sampai aku tertusuk jatuh dan kesakitan
andai bisa kuraih bulan dan kurangkai bintang
maka akan aku letakkan dihatiku agar terang
kuingin hanya cahaya darimu Tuhan
bagaikan permata ditengah hitam malam
entah mengapa kini telah padam
gelap tak terlihat pun menyerang
sampai aku tertusuk jatuh dan kesakitan
andai bisa kuraih bulan dan kurangkai bintang
maka akan aku letakkan dihatiku agar terang
kuingin hanya cahaya darimu Tuhan
Malam
sunyinya malam tiada kata
pena pun sulit untuk bicara
terasa menyayat jiwa
sungguh menyakitkan tak bermuara
tak tertahankan dan tak berwarna
teriak dan menjerit tanpa suara
menuangkan kesedihan tiada reda
menangis pilu dan maya
jatuh tersimpuh tak kuasa
terasa hancur dan hampa
pena pun sulit untuk bicara
terasa menyayat jiwa
sungguh menyakitkan tak bermuara
tak tertahankan dan tak berwarna
teriak dan menjerit tanpa suara
menuangkan kesedihan tiada reda
menangis pilu dan maya
jatuh tersimpuh tak kuasa
terasa hancur dan hampa
Mimpi
aku lumpuh menapaki hari
aku bosan mendengar rintihan ini
aku lelah melihat kenyataan ini
aku letih merasakan sakit ini
aku tak sanggup cuba berdiri
aku jenuh akan semua ini
aku sudah muak dengan kehidupan ini
aku hanyalah siput yang tak mampu berlari
aku hanya teratai yang tak sanggup mengapung lagi
apa yang harus aku cari???
ketika semua ini hanyalah mimpi
aku bosan mendengar rintihan ini
aku lelah melihat kenyataan ini
aku letih merasakan sakit ini
aku tak sanggup cuba berdiri
aku jenuh akan semua ini
aku sudah muak dengan kehidupan ini
aku hanyalah siput yang tak mampu berlari
aku hanya teratai yang tak sanggup mengapung lagi
apa yang harus aku cari???
ketika semua ini hanyalah mimpi
Masa lalu yang kelam
masa silam awal mekar begitu indah
banyak serangga kebahagiaan yang singgah
belum lama berbunga-bunga sudah
tercemar polusi nafsu yang sulit di cegah
meracuni seperti swamp crinum yang padahal tampak indah
sedikit demi sedikit tangkai keimanan mulai goyah
jatuh terperosok ke jurang sampah
sungguh sangat menyesal dan gundah
menghancurkan kerajaan cinta yang megah
tak disangka semua itu telah musnah
banyak serangga kebahagiaan yang singgah
belum lama berbunga-bunga sudah
tercemar polusi nafsu yang sulit di cegah
meracuni seperti swamp crinum yang padahal tampak indah
sedikit demi sedikit tangkai keimanan mulai goyah
jatuh terperosok ke jurang sampah
sungguh sangat menyesal dan gundah
menghancurkan kerajaan cinta yang megah
tak disangka semua itu telah musnah
Sebutir mutiara
menyelami lautan demi sebutir mutiara
beribu-ribu ombak berbagai rintang terus menerpa
sering kali badai menyesakkan dada
terkadang menyisakkan tangis di mata
walau tak kuasa menahan dinginnya luka
hingga sampailah ke dasar laut kecewa
tak percaya telah aku terjumpa
hanya sebutir pasir tak berharga
beribu-ribu ombak berbagai rintang terus menerpa
sering kali badai menyesakkan dada
terkadang menyisakkan tangis di mata
walau tak kuasa menahan dinginnya luka
hingga sampailah ke dasar laut kecewa
tak percaya telah aku terjumpa
hanya sebutir pasir tak berharga
Terpuruk
aku terpuruk dalam kesedihan
dia yang menyeka air mataku pun telah hilang
lenyap bersama secerca harapan
begitu juga dengan bintang-bintang
tenggelam dilenyapkan sang siang
harta yang paling berharga dalam ketulusan
hanya dia yang berikan kebahagiaan
seperti melati yang berikan keharuman
semerbak bertabur ketulusan
di dunia ini tak ada yang sebaik dia
dia yang menyeka air mataku pun telah hilang
lenyap bersama secerca harapan
begitu juga dengan bintang-bintang
tenggelam dilenyapkan sang siang
harta yang paling berharga dalam ketulusan
hanya dia yang berikan kebahagiaan
seperti melati yang berikan keharuman
semerbak bertabur ketulusan
di dunia ini tak ada yang sebaik dia
Demi cinta suci
pernah hatiku luka pedih kerana dicalari cinta penuh duri
lemas aku dalam dilema
kata janji manis sungguh tak bermakna
mencari mu kasih bagai mencari mutiara putih
walau ke dasar lautan sanggup kuselami
namun tak percaya apa yg telah aku terjumpa
kau sebutir pasir tak berharga
demi cinta yg suci kurela korbankan kepentingan diri
demi sinar bahagia kuhambakan diri pada-Nya yg Esa
baru kini kurasai nikmatnya cinta yang suci
lemas aku dalam dilema
kata janji manis sungguh tak bermakna
mencari mu kasih bagai mencari mutiara putih
walau ke dasar lautan sanggup kuselami
namun tak percaya apa yg telah aku terjumpa
kau sebutir pasir tak berharga
demi cinta yg suci kurela korbankan kepentingan diri
demi sinar bahagia kuhambakan diri pada-Nya yg Esa
baru kini kurasai nikmatnya cinta yang suci
Dipersimpangan aku berdiri
cukuplah kusimpan semua ceritaku,yang dulutentangku,tentang apapun yang membuatku tiada berartidipersimpangan aku berdiri,membisuharus kuputuskan kemanakah ku melangkahjangan lagi usikku meski aku tak tahukemana lagi aku berlarikejar harapan yang sempat mengelambiarkanlah kuhidup dengan nafas yang barunafas yang menyimpan kedamaiancukup january kemarin ku tinggalkan kelamkutentanku dan masa lalu yang membuatku tiada berarti
Langganan:
Komentar (Atom)